BoA (Best of All)



woman that more than woman

A great friendship is about two things: First, appreciating the similarities, and second, respecting the differences. Nur Hidayati is my greatest friend of every time who bring me into greatest relationship. She has to create her own legacy and make sure her name will be written with golden letters in the history of my life.
Alobatnic

Saya sadar dan memahami bahwa faktor luck itu ada dan ikut terlibat dalam membentuk bentangan perjalanan yang saya lalui. Faktor luck inilah yang membuat saya terus bisa bertahan berjalan menikmati gelinjangan perjalanan, yang pada saat dan tempat tertentu merasa kuldesak, dan pada saat dan tempat yang lain merasa melesak. Tak tahu pasti mana yang lebih banyak. Saat suka dilanda duka, tentu saya lebih mudah mengira bahwa perjalanan saya lebih banyak dihantam kuldesak ketimbang terbang ringan untuk melesak.

Ketika ada orang hendak berontak, battle-mate saya sekalipun, mengenai faktor luck ini, ya dibiarkan saja. Lagipula kalau memang faktor luck itu tidak ada, buat apa ada kata luck di dalam kamus bahasa Inggris? Negara Majapahit tak memiliki kosakata ‘kalah’ dalam kamusnya lantaran negara yang pernah berdiri megah menghimpun bangsa-bangsa yang ada di atas bumi Nusantara ini tidak mengenal kata ‘kalah’. ‘Ngalah’ pun berakar dari kata ‘ilah’ (Indonesia: penguasa) yang diimbuhi ‘ngo’ (Indonesia: menuju).

Lalu apa faktor luck saya? Salah satunya adalah saya beruntung bersahabat dengan Eny Rochmawati Octaviani yang kehadirannya memberikan berkah tersendiri. Perempuan cantik yang biasa disapa Tata ini hadir pada saat dan di tempat yang tepat. Telat beberapa saat atau terlampau cepat sedikit saja, tentu berbeda. Ada sisi yang jika dipaksa menjelaskan dengan nalar, butuh banyak faktor supaya sisi tersebut bisa dielaborasi dengan apik. Bukan sekedar elaborasi parsial yang hasilnya tak pernah memuaskan batin.

Dari persahabatan dengan Tata, saya bisa melebarkan sayap melalui persahabatan dengan Nur Hidayati. Perempuan cantik yang biasa saya sapa Hida ini juga memberi berkah tersendiri buat saya. Dengan anugerah daya ingat berlipat yang saya miliki, saya mudah sekali mengingat segala yang pernah terekam dalam memori. Selain itu, walau sulit berteman dengan liyan, saya bisa dengan mudah membaur dalam lingkungan untuk jangka pendek. Walau demikian, ada juga sebagian yang bisa melantan bersama dalam kebersamaan sepanjang jalan disertai pengaruh besar yang diberikan dalam perjalanan saya. Tata dan Hida diantaranya.

Perkenalan kami, saya dan Hida, bermula ketika Tata mengajak saya main ke rumah Hida. Rumah Hida berada di Rendeng. Desa ini tak asing bagi saya. Sejak balita saya sudah sering main ke Rendeng bersama Lek Sholeh, paman saya, yang bekerja di Dersalam. Sebelum Hida, juga ada beberapa teman dari Rendeng yang saya kenal pada tahun yang sama ketika mengenal Hida, 2008. Ada Sheila Ratnasari, Sekar Ayuningtyas, sampai Cornelia Septanti. Tiga orang ini semuanya sekolah di SMP Negeri 5 Kudus dan satu angkatan dengan saya. Tapi kalau anak SMP Negeri 3 Kudus yang dari Rendeng, sama sekali belum ada.

Tepat pada hari terakhir Oktober tahun ‘emas’ bagi saya, Hida mulai hadir dalam perjalanan saya. Bersama Hadi Asrori, saya menjumpai Tata dan Hida yang tampil alami saat itu. Mereka tak tampak dandan lebih dulu, bahkan masih memakai bawahan rok putih seragam SMP yang dipakai hari itu. Setiap Jum’at dan Sabtu, SMP Negeri 3 Kudus memakai seragam sekolah dengan atasan batik biru dengan kombinasi bawahan putih polos. Tapi baju atasan mereka sudah ganti tak memakai seragam lagi. Tata memakai baju warna pink sementara Hida memakai baju warna merah hati.

Ibunya Hida menyambut kami dengan ramah atau istilah Jawa-nya grapyak. Beliau saat itu sedang ngemong Rama yang masih berusia satu tahun lebih hampir satu bulan. Dari garasi tampak bapaknya Hida di dalam rumah. Ewuh pakewuh banget masuk ke rumah Hida saat itu. Keadaan kami yang belum saling mengenal adalah penyebabnya. Hanya ada empat orang di ruang tamu saat itu. Saya duduk di sebelah utara. Tepat di depan saya adalah Tata. Hida sendiri berada di sebelah kiri saya yang berhadap-hadapan dengan Rori. Beberapa menit awal suasana terasa beku. Sebenarnya tak beku amat, cuma hampir tak ada suara antara saya dan Hida.

Suasana mendadak cair ketika Hida melontarkan gurauannya pada saya dan Tata. Gara-gara ketika Tata menghubungi temannya tak kunjung diangkat, saya langsung nyerocos bilang, “Nomor yang anda tuju sedang selingkuh.” Hida langsung menanggapi dengan ungkapan, “Cie, ada apa-apa ni kayaknya.” Spontan Hida dan Rori kompak menjodohkan saya dan Tata sampai kami berdua mati kutu.

Hida juga sempat bilang pada Tata, “Awas Ta rokmu!” Saat Hida mengatakan demikian, rok Tata memang terbuka. Suasana obrolan semakin ramai. Tirai yang menjadi penghalang ruang tamu dan ruang tengah sempat terbuka. Dari posisi duduk saya tampak perempuan kecil yang sedang duduk di ruang tengah memakai baju biru muda. Belakangan saya tahu ternyata ia adalah Novita Rahmawati, adik langsung Hida.

Saya dan Hida mulai menjalin komunikasi dan berkenalan satu sama lain. Pertemanan kami mulai tambah akrab. Sayang, belum genap sebulan saya mengenal Hida, berita duka datang. Saya sedang di rumah Ahmad Fuad Ria Sahana (Mamad M.A.S.A.M) saat itu, ketika mengirim SMS pada Hida.
Cie yang besok ulang tahun, happy birth day yak,” tulis saya
“Mas, aku lagi berduka. Bapakku meninggal.” balas Hida.
Tepat pada Jumu’ah Kliwon, 30 Dzulqo’dah 1429 dan 28 November 2008, bapaknya Hida menghembuskan nafas terakhir.

Seharusnya pekan-pekan terakhir November adalah masa-masa bahagia bagi Hida. Ia memperingati birthday-nya pada 29 November. Masa-masa ini juga masa bahagia bagi saya lantaran saya bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu singkat. Setelah kepala sekolah batal mengeluarkan saya dengan diganti memberikan surat pernyataan terakhir, saya kembali menjalani hari-hari di sekolah dengan baik. Tapi di masa-masa ini, justru kabar duka datang. Hida merayakan birthday ke-14 untuk kali pertama tanpa adanya bapak. Kado tragis pada momen manis.

Buat Hida sendiri ini bukan kali pertama. Birthday pertama Hida, ketika ia genap 1 tahun, juga tanpa kehadiran ragawi bapaknya. Ketika ibunya Hida hamil 7 bulan, berita duka datang dari Sigli, tanah kelahiran sang ibu. Simbah Hida meninggal dan ibunya Hida serta Hida pergi ke Sigli untuk turut serta dalam berbagai upacara kematian. Hanya saja, peristiwa yang terjadi pada 1995 dan 2008 jelas berbeda. Ketidakhadiran bapak pada 1995 karena beliau sedang ada dinas yang tak bisa ditinggalkan dalam waktu lama. Sementara pada 2008, ketidakhadiran ragawi beliau lantaran beliau sudah pindah ke dimensi lain.

Buat ibunya Hida, juga cukup memukul telak. Anak ketiga mereka, Rama, baru berusia setahun. Istilahnya Rama belum ndolor ketika bapaknya meninggal meski Rama pasti sudah mengenal bapaknya dan merasakan sentuhan kasih sayang dari sang bapak. Peristiwa semacam ini dialami semua orang, bahkan semua yang memiliki nyawa, namun tetap saja memberikan rasa duka. Terlebih Hida memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan bapaknya.

Walau demikian, selalu ada hikmah dalam setiap kisah. Antara lain Hida bisa belajar menjadi wonder woman dari sang ibu, tak perlu jauh-jauh belajar dari perempuan lain. Sang ibu sendiri sudah menjadi more than a woman. Ibunya Hida ramah pada teman anak-anaknya. Beliau juga berani memberi kepercayaan penuh bagi dua putrinya untuk perjalanan jauh dari pengawasan langsung sang ibu.

Akhir Desember 2008, beberapa hari sebelum tahun baru dan hampir sebulan pasca hari berkabung, saya dan Rori kembali main ke rumah Hida. Kali ini tak ada Tata, hanya kami bertiga saja. Hida tampak lebih siap menerima kedatangan kami. Ia dandan cukup rapi dengan memakai atasan kaos putih bertuliskan Bandung Tempo Doeloe dan bawahan celana jeans warna biru.

Intensitas komunikasi dengan Hida terbilang kurang masif. Selain jarang telepon juga jarang SMS. Saat itu jejaring sosial Facebook belum merajalela di kalangan remaja Kudus. Malah masih banyak yang memakai Friendster. Meski saya sudah membuat akun Facebook dan Twitter, tapi belum banyak terpakai.

Nomor utama telepon (ponsel) seluler kami berbeda operator. Saya memakai Indosat sedangkan Hida memakai Telkom Fleksi. Baru beberapa bulan kemudian Hida beralih ke Indosat. Yang jelas, satu kesamaan kami adalah tak memiliki hobi gonta-ganti nomor ponsel. Paling-paling menambah nomor lagi sementara nomor lama tetap dipakai. Setidaknya hal ini tak bikin geregetan teman-teman.

Gara-gara komunikasi kurang masif, Hida malah tak tahu menahu kalau saya adalah perokok sejak kami berkenalan. Saya memang sempat berhenti total merokok sejak tahun baru 2009. Tapi sepanjang 2008 saya masih merokok, cuma tak pernah merokok terang-terangan di depan orang, termasuk Hida. Pada saat yang sama ini kebiasaan saya berbarengan dengan kebiasaan Arij Zulfi Mufassaroh (Ais) yang aktif merokok sejak 2006. Setelah beberapa lama berhenti, baru kemudian saya kembali merokok setelah lewat 26 Maret 2011. Hal ini justru belum diketahui Hida sehingga ia tampak kaget beberapa waktu lalu setelah tahu saya merokok.

Pertemuan 09 Maret 2009 di rumahnya menjadi kali terakhir saya main ke rumah Hida sebelum memasuki era baru ditandai dengan masuk pesantren. Ada yang berubah, ada yang berlanjut, saat saya memasuki dunia yang membikin saya beridentitas sebagai santri ini. Di antara keduanya, ada yang berhenti sejenak, mungkin sejenis demikian.

Tanpa direncana, kami bercakap empat mata dengan suasana yang menggelinjang dalam keheningan. Cuaca cerah mendadak mendung dan berlanjut hujan deras sesaat. Lucunya, kami sempat beberapa saat tak saling menatap wajah masing-masing walau terus menggeber lidah kami sepanjang percakapan. Posisi duduk kami saling tegak lurus, saya menghadap timur dan Hida menghadap utara.

Selain empat mata dengan Hida, hari itu juga saya sempat empat mata dengan Ita meski untuk yang satu ini hanya sekelebat mata saja. Ita kebetulan ngemong Rama di dekat sepeda motor saya ketika saya mau pulang. Hanya sesaat saja mata saya dan Ita saling memandang disertai senyum dari kami dan hanya sekali itu saja kami berjumpa. Perjumpaan tanpa sapaan.

Sesudahnya, saya memasuki masa-masa ‘rehabilitasi’ di pesantren. Selama di pesantren, komunikasi kami jarang terjadi. Walau tak ada masalah sebenarnya, cuma jarang saja lantaran pesantren saya tak mengijinkan santrinya mengoperasikan ponsel selama jadwal berjalan.

Selain dengan Hida, komunikasi dengan Tata juga terputus. Interaksi saya dan Tata sempat dirisak yang sekejap memindahkan arah hubungan kami dari titik terintim hingga titik terjauh. Perlu waktu lebih dari setengah tahun untuk kembali berkomunikasi dan lebih dari setahun untuk bertemu empat mata.

Meski sempat ada risakan, hal ini tak berpengaruh pada interaksi saya dan Hida, yang selalu baik. Saya mengagumi Tata yang tak pernah ikut campur urusan orang, walau orang-orang tersebut memiliki hubungan dengannya. Ketika hubungan individual saya dan Tata sangat buruk, tak serta merta membuat hubungan individual saya dan Hida ikut buruk.

Aturan tak boleh mengoperasikan ponsel selama jadwal berjalan nyaris membikin saya tak sekalipun menghubungi Hida melalui telepon andai saya tak melalukannya sekali. Satu-satunya interaksi saya dan Hida melalui telepon ketika saya nyantri melalui jasa warung telepon (wartel).

Saya menghubungi Hida melalui telepon rumahnya. Tapi yang mengangkat ibunya Hida. Ketika mendengar suara ibunya Hida hampir saja saya langsung tutup telepon, takut saya atau Hida dimarahi. Kami sempat basa-basi sebentar dan tak ada tanda-tanda marah dari beliau. Malah kemudian beliau justru mempersilahkan saya ngobrol dengan Hida. Setelah lama tak bertelepon ria dengan Hida, kami ngobrol lama saat itu.

Aneh juga rasanya. Rumah saya dan Hida tak jauh, hanya terpisah sekitar 20 km saja. Sama-sama masih di Kudus. Tapi selama saya nyantri, kami sama sekali tak pernah bertemu. Bahkan kami sempat putus kontak sama sekali setelah ponsel saya hilang. Sejenis Yoona Girls’ Generation dan Dara 2NE1 yang tak pernah tampil bersama walau satu kota.

Hilangnya ponsel serta merta membuat seluruh kontak di ponsel tersebut juga hilang. Pemulihan nomor yang dilakukan di Gerai Indosat Kudus tak bisa disertai penyelamatan kontak. Sejak saat itu kami putus kontak dan baru kembali berkomunikasi sejak 09 Maret 2013. Ketika saya meninggalkan Kudus untuk bermukim di Bandung tak pamitan’ pada Hida.

Tanpa diduga sebelumnya, Hida juga meninggalkan Kudus untuk bermukim di Banda Aceh. Saya tahu kalau Hida pindah bermukim di Banda Aceh dari Tata. Sore hari Tata menghubungi saya. Seingat saya pada bulan Juni. Melalui telepon Tata bilang kalau Hida sudah berangkat. Seperti membalas saya yang tak pamitan, Hida juga tak pamitan pada saya.

Langkah Hida kuliah di Aceh tampak tak mengejutkan. Ia memiliki darah Aceh. Ibunya adalah perempuan asal Sigli. Hida yang lahir di Kudus malah memperingati birth day pertamanya di Sigli. Tapi ia sempat bilang kurang nyaman di Aceh. Hal ini diungkapkannya 2010 silam ketika ia menikmati liburan semester ganjil di Aceh bersama keluarga.

Hida saat itu bilang kalau Kudus lebih nyaman daripada Aceh. Selain itu di awal perkenalan saya melihat kalau Hida cenderung lebih mirip bapaknya daripada ibunya. Ita yang cenderung mirip ibunya. Dengan kecenderungan mirip bapaknya daripada ibunya serta kelahirannya yang di Kudus, ikatan emosional Hida dan Aceh tampak tak sekuat Ita dan Aceh.

Hanya saja Hida punya pertimbangan lain. Ia berusaha untuk menikmati perjalanannya di Aceh. Hida memiliki banyak sanak keluarga di sana. Ia tak ingin tali silaturahim dengan keluarga besar di Aceh putus. Memang bisa dengan tetap menjaga komunikasi melalui media elektronik yang sudah amat mudah sekarang. Tapi itu belum cukup.

Untuk menjaga tali silaturahim itu Hida sendiri perjalanan di Aceh biar ada “jembatan keledai” antara Kudus dan Aceh. Lambat laun Hida pun akhirnya bisa menikmati perjalanannya di Aceh. Kerinduan pada sang ibu ia lampiaskan melalui telepon dan bertemu hanya pada saat-saat tertentu, misalnya lebaran.

Sejak awal Hida memang tampak memiliki ikatan kuat dengan keluarga. Bahwa ia kurang menikmati Aceh bukanlah soal keluarga melainkan lingkungan Aceh yang, menurut saya sebagai pemukim di Kudus dan Bandung, banyak membuatnya kurang nyaman. Pada akhirnya ia memilih tinggal di Aceh untuk membantu menjaga tali silaturahim keluarganya.

Hida kuliah di Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH). Unsyiah termasuk perguruan tinggi papan atas di Indonesia. Popularitas UNSYIAH di Pulau Jawa tak sebanding dengan kualitasnya. UNSYIAH memang kurang populer di Pulau Jawa, tapi bicara kualitas tak bisa dipandang sebelah mata.

Di sana ia kuliah di bidang hukum mengikuti bapaknya. Meski besar kemungkinan Hida tak sepenuhnya mengikuti jejak sang bapak. Bapaknya Hida menapaki karir di bidang Hukum Pidana, sementara Hida di bidang Hukum Perdata. Langkah hebat dari Hida. Mengikuti jejak bapak di tanah kelahiran ibu.

Perlintasan perubahan dari pelajar sekolah menengah menjadi pelajar perguruan tinggi yang dilakoni Hida berlangsung mengharukan. Ia melakoni semuanya dengan penuh perjuangan, dukungan ibu, serta keberserahan keduanya pada Yang Maha Kuasa. Hida malah sempat berkecil hati kalau ia tak bisa kuliah.

Ibu Hida terus menguatkan putrinya ini serta terus mendoakannya. Pengumuman Hida diterima masuk Unsyiah adalah satu peristiwa yang membuatnya menangis bahagia. Tangis yang juga diikuti ibunya dengan rasa yang sama. Walau mereka harus segera terpisah dalam ruang.

Tak banyak komunikasi saya dan Hida setelah ia di Aceh. Saya hanya tahu kalau ia kuliah di prodi Hukum Unsyiah. Kami hanya sesekali bercakap melalui SMS dan belum pernah ngobrol  melalui telepon. Tapi rasa rindu pada Hida tak bisa sirna. Keberadaan Hida di Banda Aceh dan saya di Bandung membuat kami tak bisa menentukan waktu pertemuan sekehendak hati. Hanya ketika sama-sama mudik ke Kudus saja waktu paling realistis untuk bertemu melampiaskan rasa rindu.

Saya sudah sangat ingin bertemu Hida tahun 2014. 2010 hingga 2013 tak ada satupun pertemuan dengan Hida. Rencananya ingin kumpul bersama Tata, Leily, dan Rori pada lebaran 2014. 2013 hanya bisa berkumpul bersama Tata dan Leily, Rori mendadak tak bisa hanya beberapa menit sebelum kami tiba di Payaman, tempat yang dipilih Tata. Hida jelas tak bisa pada tahun itu.

15 Mei 2014 saya sudah bisa kumpul bersama Tata, Leily, dan Rori di Alun-Alun Kudus. Pertemuan dengan tiga orang dalam satu ruang ini terakhir terjadi 06 Syawal 1429 di rumah Leily. Perasaan rindu pada mereka cukup terlampiaskan di malam ketika kami makan nasi kucing itu. Hanya dengan Hida yang belum sempat jumpa.

Beberapa hari sebelum saya mudik lebaran, Hida mengirim SMS.
“Mas, kamu mau ikut buber sama Tata dan Leily gak?”
“Iya,” pertanyaan Hida sebenarnya sia-sia karena jawabannya bisa ditebak.
          “Kapan?” saya langsung mengirim pesan kembali.
          “Kalau kamu sudah pulang ya,”
Sayangnya hanya saya yang saat itu tak ada di Kudus!

Ketika Hida mengirim SMS saat itu, sebenarnya sudah masa-masa liburan akhir semester. Tapi dua kali masa liburan akhir semester selalu saya pakai untuk mengikuti semester pendek, sekedar mengisi waktu luang yang panjang sekalian menikmati Ramadhan di Bandung. Lagipula kalau langsung pulang ke rumah bakal banyak males-malesan. Andai saya di rumah ketika Hida mengirim SMS itu bisa langsung sore itu atau esok harinya kami buber.

Sesampainya saya di Kudus malah tak ada tanda-tanda jadi buber. “Tak masalah,” pikir saya, “masih ada lebaran.” Sayang sekali hingga saya kembali ke Bandung, tak sekalipun berjumpa dengan Hida.

Sangat disayangkan sebenarnya lantaran keberadaan Hida di Banda Aceh (minimal) selama ia kuliah sangat menyulitkan saya untuk bertemu dengannya. Banda Aceh sangat jauh dari Bandung, kami sama-sama sibuk dengan kuliah kami, dan tampaknya tak ada tanda-tanda yang masuk akal yang bisa mempertemukan kami.

Hida yang saya minta main ke rumah saya juga tak mau, “jauuh mas” ungkapnya melalui Facebook. Padahal Rendeng-Colo lebih dekat daripada Banda Aceh-Bandung! “Ya sudahlah, ditunda sampai lebaran tahun depan saja,” ungkap saya dalam hati dalam perjalanan ke Bandung saat itu.

Mulai Selasa Kliwon sampai Rabu Legi akhir Oktober 2014, saya tak tidur semalaman. Tugas kuliah seperti kasih ibu, sepanjang masa dan setia bersama. Kata-kata ini gubahan Hida yang kemudian sering saya pakai untuk menggambarkan apapun yang bisa dianggap sepanjang masa, baik menyenangkan atau menyebalkan.

Di tengah kesuntukan menyelesaikan tugas perkuliahan, spontan juga saya langsung ingin menulis mengenai Hida, lebih tepatnya tulisan mengenai perjumpaan saya dan Hida. Hitung-hitung sebagai break sejenak. Sekalian menunggu adzan subuh yang tinggal beberapa menit. Semua rindu ditumpahkan dalam catatan dengan penuturan kronologis dibumbui feature yang terdiri dari 11 ribuan karakter itu. Langsung saya terbitkan melalui catatan Facebook sekalian menandai Hida, namun di-gembok dulu.

Saya cukup melakukan perjudian di sini, bertaruh besar dengan diri saya sendiri. Saya tak memberi tahu Hida sebelumnya dan baru memberi tahu setelah saya posting. Taruhannya begini, karena saya menulis sesuai kehendak hati saya, saya khawatir tanggapan Hida negatif alias justru membuatnya antipati pada saya. Terlebih lagi komunikasi kami yang belum stabil, berpotensi kembali memutuskan komunikasi kami.

Walakin, saya pede saja. Kalau Hida mau marah, toh kami tak bakal bertemu tahun ini, minimal lebaran tahun depan –pikir saya saat itu. Dengan pede juga saya kirim SMS ke Hida memintanya untuk membaca catatan pendek saya itu.
“Catatan tentang apa mas?” ungkap Hida melalui SMS yang dikirim selepas maghrib.
“Tentang kamu, judulnya Hida.” Jawab singkat saya.
Kurang sejam, ia langsung mengirim SMS lagi.
“Terharu aku mas,” ungkapnya melalui SMS yang dikirim menjelang adzan Isya’ Kota Bandung.
Untunglah Hida tak antipati. Saya tak perlu mendapat ungkapan terharunya itu, yang penting Hida tak menanggapi negatif.

Sesudah saya memnerbitkan tulisan itu, saya malah ingin ngobrol  lama dengan Hida melalui telepon. Beberapa kali punya waktu luang ternyata tak beririsan dengan Hida. 14 November sempat menghubunginya melalui telepon. Sayang ia sedang ada acara di Unsyiah. Baru pada 16 November kami ngobrol  melalui telepon dalam suasana santai. Itupun cuma 13 menit, Hida keburu pergi ke Aceh Jaya karena ada acara di sana.

Sejak SMK, Hida mengalami perkembangan pesat. Sekolahnya mulai tertata. Ia juga  mau aktif dalam kegiatan di luar jadwal ‘standar’ sekolah. Bagusnya, dua hal ini tak membuat waktunya untuk bersama teman-teman berkurang. Pengelolaan waktu yang dilakoni Hida jauh lebih baik daripada saya.

Masa-masa antara setelah saya menulis Hida hingga kami bisa ngobrol  melalui telepon, ada pengumuman acara monev. Monev adalah kependekan dari monitoring dan evaluasi, salah satu program Kementerian Pendidikan RI untuk memantau jalannya kebijakan pendidikan dari pemerintah pusat di daerah.

Pada saat-saat itu, saya sedang mengambil mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Fisika (PPF) di kelas Pak Didi Teguh Chandra, dosen yang membuat saya kembali bernoastalgia dengan masa MTs dan ingin kembali ke MTs NU Miftahul Falah sebagai guru. Kalau di kelas Pak Didi, bisa mendapatkan kesempatan ini. Saya belum memikirkan ke mana tempatnya. Yang penting dapat jatah dulu untuk jalan-jalan keluar Pulau Jawa.

Setelah 16 November menelepon Hida, langsung mengkhayal, “Andai saja monevnya di Aceh, bisa sekalian ketemu Hida.” Setelah semalaman tak tidur, saya langsung merem usai menutup telepon dengan Hida. Mungkin karena pikiran sudah lari ke Banda Aceh, malah jadi mimpi main ke Banda Aceh. Untung juga tak dibangunkan teman saya, jadi mimpinya bisa selesai. Kalau untuk hari itu, lumayan bisa menghibur meski kesannya hanyalah virtual paradise not real paradise (firdaus). Tapi saya masih tetap ingin real ke Banda Aceh, tak cuma virtual atau dream saja.

Peluang terbuka. Senin 17 November pembagian lokasi. Kebetulan ada lokasi yang di Propinsi Aceh tepatnya di Kabupaten Bireuen. Hanya itu yang di Aceh, tak ada lagi. Saya langsung ingin menembak Bireuen dan rasanya tak mau diundi. Sial, jatah Bireuen malah sudah didapatkan orang lain. Saya sendiri jatahnya Lombok. Meski tempatnya lebih mempesona, tapi saya lebih ingin ke Aceh. Kapan lagi bisa bertemu Hida kalau tidak sekarang? Sudah lama pula kami tak jumpa. Untunglah teteh yang mendapat jatah di Bireuen mau bertukar tempat. Ia sendiri akhirnya memilih Palembang. Mungkin ingin sekalian pulang kampung. Kadang-kadang tempat yang mempesona kalah menarik dengan tempat biasa yang bisa dipakai untuk melepas rindu yang terpendam lama.

Sejujurnya, saya tak percaya dengan kesempatan ini. Jatah monev ke Aceh pada bulan November. Artinya saya bisa bertemu Hida pada momen birth day-nya. Mungkin terlalu over sampai-sampai pikiran saya sudah lari duluan ke Aceh meski tiket pesawat belum dibeli. Saya langsung membeli tiket untuk penerbangan hari Selasa. Senin malam menelepon Hida untuk memberi kabar dan janji ketemuan. Kabar dari SMS tampaknya belum meyakinkan Hida.

Hida memang memiliki sikap skeptis, kadang bagus kadang tidak. Bagusnya ia bisa memilah dengan baik dan jeleknya kadang sulit percaya pada orang. Kelemahan saya dari Hida adalah saya kurang skeptis jadi terlalu mudah percaya. Dengan semangat melepas rindu, akhirnya terbang ke Aceh melalui Cengkareng. Kali pertama pergi ke Aceh, tempat yang sudah ingin saya kunjungi sejak peristiwa Tsunami 2004 silam.

Aceh memiliki rekor pribadi bagi saya. Kali pertama saya mulai suka menulis, tulisan pertama yang saya buat adalah mengenai Aceh dengan judul Tsunami. Tulisan yang proto-type-nya diambil dari lirik langgam Arjuna gubahan Dewa. Sejak saat itu juga mulai suka menulis, menggenapi kegemaran membaca surat kabar. Dari Majalah Bobo, Tabloid Favorit dan Soccer, hingga harian Kompas dan Jawa Pos.

Hida menyarankan saya untuk menyelesaikan pekerjaan di Bireuen baru ketemuan. Bagus juga sarannya lantaran setelah dilaksanakan, pekerjaan yang jatahnya empat hari bisa selesai dalam waktu 6 jam. Pihak Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Bireuen serta 3 SMP yang saya datangi banyak membantu untuk menyukseskan pekerjaan singkat dan padat ini.

Hari berikutnya, saya pakai untuk jalan-jalan di Bireuen. Benar-benar jalan-jalan karena jalan kaki. Kalau pergi ke tempat baru, paling males kalau jalan-jalan memakai kendaraan. Jalan kaki lebih bebas dan seringkali bertemu sesuatu yang baru. Di Bireuen, sesuatu yang baru bagi saya adalah pasar batu cincin. Langsung saja membeli sebongkah batu giok jenis Nefrid dengan harga Rp 320.000. Lumayan bisa dipakai untuk oleh-oleh buat Pak Didi yang memang suka batu semacam itu dan sedang booming batu mulia.

Siang harinya langsung menuju Banda Aceh. Sempat ingin bertemu Hida malam harinya tapi tak jadi lantaran ada miss komunikasi antara kami. Ada bagusnya juga lantaran dengan demikian saya bisa menikmati malam itu dengan jalan-jalan di Banda Aceh, menikmati perjalanan malam yang indah. Rasanya seperti di Kudus, cuma dalam beberapa hal masih lebih bebas di Kudus. Untung juga saya menginap di Peunayong yang menjadi tempat makan-makan di Banda Aceh. Benar atau salah, Peunayong sepertinya menjadi pusat tempat nongkrong di Banda Aceh.

Baru pada Jumu’ah malam, tujuan utama terpenuhi. Saya sempat khawatir Hida tiba-tiba membatalkan lantaran hujan deras sempat turun membasahi tanah Serambi Makkah. Untunglah Semesta Mendukung, hujan deras sejak siang hari, bahkan sempat banjir di atas mata kaki di sekitar tempat penginapan saya, akhirnya reda pada detik-detik yang kami rencanakan untuk bertemu.

Sayang kami cuma bertemu singkat saja malam itu, cuma makan malam saja. Jam malam di Banda Aceh kurang mendukung untuk bisa berdua dengan Hida. Dalam makan malam itu kami menelepon Tata, sosok penting dibalik perkenalan kami. Tata masih capek usai latihan persiapan buat pentas esok hari. Tapi ia bersedia meluangkan waktunya untuk turut dalam perjumpaan saya dan Hida.

Senang bisa melampiaskan rindu dan orang yang mempertemukan kami bisa turut dalam obrolan malam itu. Tapi saya kesal juga pada Hida yang bilang pada Tata kalau saya mengeluarkan air mata. Gak bisa nahan euy.

Setelah di malam sebelumnya bisa bertemu untuk kali pertama, esok harinya saya meminta Hida menemani saya jalan-jalan. Hida sebenarnya memiliki agenda hari ini, tapi ia mau meninggalkan jadwal untuk berkumpul dengan organisasinya dan menemani saya jalan-jalan. Hida tampak menikmati perjalanannya sebagai pelajar perguruan tinggi yang aktif di organisasi. Tak sekedar ikut meramaikan walakin ikut memperkaya serta  mengambil banyak pelajaran dari organisasi.

Sesuai rencana kami di malam sebelumnya, kami mulai jalan-jalan sekitar pukul 9 pagi. Awalnya saya meminta pagi-pagi sekali kalau bisa, pukul 6. Sayang Hida tak bisa. Bagus juga lantaran saya justru baru bangun pukul 8 pagi dan Hida bangun sejam lebih pagi daripada saya. Hida memakai baju ungu dan memakai rok batik. Jilbab ungu menutupi rambut pendeknya seperti hair-style Kim Tae-yeon dalam video musik Rain. Pagi itu nyaris saya memakai batik ungu tapi kemudian beralih memakai batik biru. Kalau ungu warna atasan yang dikenakan Hida, biru adalah warna yang ia kenakan untuk bawahan.

Saya hanya ingin foto-foto saja selama jalan-jalan. Meski sudah cukup lama bersama tapi tak ada satu fotopun antara saya dan Hida. Padahal dengan teman-teman lain sudah ada. Dengan siapapun saya ingin memiliki foto berdua. Bisa menjadi kenang-kenangan pribadi yang sangat berharga.

Hida kemudian saya ajak untuk menemani membeli oleh-oleh untuk yang perlu dibelikan. Untuk saya sendiri buruan utama adalah kopi Aceh. Hida mengatakan kopi Gayo yang paling enak. Tapi saya membeli cukup banyak sebagai ajang coba-coba. Mulai kombinasi Robusta dan Arabika dari Gayo dan Ulee Kareng hingga kopi campur ganja yang harganya Rp 50.000 per sachet. Semuanya dicoba sembari melatih kepekaan lidah saya terhadap kopi yang sedang getol diasah saat itu. Setelah saya merasakan semuanya, kopi Gayo lah yang paling enak. Hasilnya sama seperti yang diberitahu Hida, tapi mengalami sendiri memberi harga tersendiri.

Saya memang belum puas jalan-jalan di sini bersama Hida. Tapi rasa rindu yang terpendam lama pada perempuan yang berzodiak Sagittarius ini bisa terobati. Sebelum ke Aceh, saya memang sedang mengalami banyak masalah yang membuat saya mengalami mental breakdown. Jadi kali ini ingin refreshing biar bisa menjalani rutinitas dengan maksimal. Banyak pekerjaan yang sudah harus diselesaikan dengan cepat dan tepat.

Untung juga saya bisa di Aceh sampai hari Sabtu. Sabtu Hida libur kuliah jadi bisa saya ajak main seharian. Juga saya cukup beruntung masih mendapatkan tiket pesawat untuk keberangkatan pukul 15:50. Perjalanan hari itu ditutup dengan makan siang. Lumayan bisa menahan air mata agar tak tumpah, kan kalau terlihat nangis kayak cemen ya? Sebelum kami berpisah, kami menelepon Tata. Baik saya dan Hida masih bisa berhubungan baik dengan Tata.

Saya langsung bilang ke Hida kalau lebaran tahun depan ingin berkumpul bersama mereka; saya, Hida, Tata, Leily, dan Rori. Ini belum pernah terjadi sekalipun. Paling-paling hanya empat orang dan paling sering cuma tiga orang. Ajakan ini akhirnya terpenuhi, walau lagi-lagi tak bisa full-team. Hanya bersama Tata ketika di rumah Hida, berempat tanpa Rori ketika di rumah Leily dan saya. Di rumah saya selain menjadi ‘penutup’ juga sekalian memperingati milad hijriyyah saya yang keduapuluhdua, 13 Syawal 1437.

Perjalanan memang sebuah perjuangan, walakin takdir ikut terlibat menentukan. Saya dan Hida sama-sama perjalanan dengan perjuangan. Kadang merasa kecewa hasilnya tak sesuai harapan, lain kali terpana dengan hasil yang melebihi harapan. Juga kebersamaan kami pun berhasil bertahan hingga sekarang melalui serentetan perjuangan, dan juga takdir.

Hida adalah tipikal orang yang tak pernah berjanji tapi ucapannya selalu bisa dipenuhi. Ia sangat hati-hati dalam berungkap kalimat, lisan maupun tulisan. Yang paling memotivasi dan menginspirasi saya adalah menyaksikan perkembangan Hida dari sejak kami kenal hingga sekarang. Sejauh ini perkembangan Hida paling pesat dalam battle-mate circle saya. Kalau disebut berubah menjadi lebih baik, Hida adalah teladan utama saya dalam hal ini.